Sunday, November 30, 2008
hukum ketawa dengan senyum
Abu Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ishaq bin Manshur berkata: Ketika Khidir akan berpisah dengan Nabi Musa a.s. maka berkata Nabi Musa a.s.:
“Berilah nasihat kepadaku.”
Khidir berkata: “Ya Musa, jangan banyak bicara dan jangan berjalan tanpa kepentingan dan janganlah tertawa tanpa sesuatu yang mentertawakan dan jangan menempelak orang yang salah dengan dosa kesalahannya dan menangislah atas dosa-dosamu sendiri, hai putera Imran.”
Jaafar bin Auf dari Mas’ud dari Auf bin Abdullah berkata:
“Biasa Nabi Muhammad SAW tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya. (Yakni tidak suka melerek).”
Hadis ini menunjukkan bahawa senyum itu sunat dan tertawa bergelak-gelak itu makruh. Maka seharusnya orang yang sihat akal jangan gelak-gelak tertawa sebab banyak yang bergelak di dunia bererti akan banyak menangis di akhirat. Allah SWT berfirman yang bermaksud:
“Hendaklah kamu sedikit ketawa dan banyak menangis setelah menerima pembalasan dari amal perbuatan mereka.”
Al-Hasan Basri berkata:
“Sungguh ajaib seseorang dapat tertawa pada hal di belakangnya ada Api Neraka dan orang yang bersuka-suka sedang di belakangnya maut.”
Al-Hasan Basri bertemu dengan pemuda yang sedang tertawa , lalu ditanya:
“Hai anak muda, apakah engkau sudah menyeberang Shirath?”
Jawabnya: “Belum.”
“Lalu kerana apa engkau tertawa sedemikian itu?”
Maka sejak itu pemuda itu tidak tertawa lagi. Nasihat Hasan meresap benar dalam hatinya sehingga ia bertaubat daripada tertawa
“Berilah nasihat kepadaku.”
Khidir berkata: “Ya Musa, jangan banyak bicara dan jangan berjalan tanpa kepentingan dan janganlah tertawa tanpa sesuatu yang mentertawakan dan jangan menempelak orang yang salah dengan dosa kesalahannya dan menangislah atas dosa-dosamu sendiri, hai putera Imran.”
Jaafar bin Auf dari Mas’ud dari Auf bin Abdullah berkata:
“Biasa Nabi Muhammad SAW tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya. (Yakni tidak suka melerek).”
Hadis ini menunjukkan bahawa senyum itu sunat dan tertawa bergelak-gelak itu makruh. Maka seharusnya orang yang sihat akal jangan gelak-gelak tertawa sebab banyak yang bergelak di dunia bererti akan banyak menangis di akhirat. Allah SWT berfirman yang bermaksud:
“Hendaklah kamu sedikit ketawa dan banyak menangis setelah menerima pembalasan dari amal perbuatan mereka.”
Al-Hasan Basri berkata:
“Sungguh ajaib seseorang dapat tertawa pada hal di belakangnya ada Api Neraka dan orang yang bersuka-suka sedang di belakangnya maut.”
Al-Hasan Basri bertemu dengan pemuda yang sedang tertawa , lalu ditanya:
“Hai anak muda, apakah engkau sudah menyeberang Shirath?”
Jawabnya: “Belum.”
“Lalu kerana apa engkau tertawa sedemikian itu?”
Maka sejak itu pemuda itu tidak tertawa lagi. Nasihat Hasan meresap benar dalam hatinya sehingga ia bertaubat daripada tertawa
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment